Oleh : Ust. Felix Y Siauw
01. cinta seringkali datang dari hal-hal sederhana bukan mewah | seperti kaus kaki yang kau kenakan saat gerimis di tengah sawah
02. saat engkau tunjukkan pekerti yang memikat hati | cerminkan kehormatan diri dan taatmu jadi jaminan hari nanti
03. walau jilbabmu terbasah lumpur yang menggenang | jangan tanya kaus kaki yang kotor bukan kepalang
04. namun engkau tetap tenang tak bergeming | memikirkan taatmu pada siapa? itu yang buat merinding
05. tanpa kusadari ada rasa haru menelisik masuk | romantisme manapun tidak ada saingan bagi takjub yang merasuk
06. namamu pun aku tak tahu, tapi yang tersebut justru nama Tuhan-mu | "subhanAllah yang telah menciptakan Muslimah taat semisalmu"
07. karena taat pada Allah maka seorang Muslimah layak dinikahi | sebab mendidik anak yang menyembah Allah perlukan iman yang sejati
08. cinta itu membutakan, cinta karena Allah lebih tak peduli | urusan apa asal etnis dan kekayaan, bila sudah taat Allah apa lagi dicari?
09. kukirimkan sepucuk surat padamu, isinya permintaan pernikahan | karena Allah sudah menjaminmu, tiada kuperlukan pacaran
10. tak perlu lagi berkenalan, karena kauskaki kotor sudah jadi saksi | jika perintah Allah engkau dengarkan, begitu juga kelak pinta suami
11. engkau balas surat dengan kata "engkau belum mengenalku" | aku memang belum mengenalmu, tapi yang kutahu lebih dari cukup bagiku
12. pantang menyia-nyiakan Muslimah yang taat Allah | di rumah tangga kelak yang begini yang mengundang berkah
13. kaus kaki kotor berbicara lebih banyak daripada lisan | memberitahu lebih banyak dari kebohongan bertopeng pacaran
14. adakala kejujuran lebih mudah dilihat dari perbuatan | namun pacaran sudah pasti mensyaratkan kebohongan
15. kaus kaki memang tak bisa bicara, namun ia tiada berdusta | beda dengan pacaran yang katanya cinta, namun minta pemuas nafsu nista
16. ingatkah engkau tentang pasangan aktivis-pacaran yang menuding | bahwa pernikahan kita tak didahului pacaran karenanya tak langgeng?
17. tahun demi tahun tanganmu tetap kugenggam hingga hari ini | sementara yang berpacar tiada menikah dengan alasan itu dan ini
18. tidak salahlah aku memilihmu, berbekal telaah kaus kaki | hatimu mudah menerima nasihat, asalkan ada hadits dan ayat
19. tiada salah aku menunda kenikmatan masa muda | karena sekarangpun aku pun tak ingat lagi -dan tak peduli- pernah muda
20. sabar menanti yang halal akan berakhir satu saat nanti | namun nikmat bersama yang tak halal akan jadi penyesalan nanti
21. dulu aku berusaha jadi ksatria, tidak memenuhi kepalamu dengan janji | komitmenku adalah akad nikah, ucapan sayang masih banyak masa
22. sekarang akupun tetap ksatria, mencari bagimu hanya yang halal | berucap padamu hanya yang baik, dan mengajarmu hanya yang benar
23. dan ksatria itu adalah menikahi, atau sudahi | bukan memulai yang tak bisa diselesaikan dengan menikahi
24. jelas bukan ksatria yang mengucapkan cinta, sayang | sedang bertemu wali dan tentukan tanggal saja banyak alasan
25. bila betul niatmu mencintai karena Allah | maka menikah itu pahala bagimu, bila belum siap dan berpisah itupun pahala bagimu
26. didik dirimu dengan Al-Qur'an, latih dirimu bergerak dalam dakwah Islam | itu jaminan hari tua, engkau bersama dengan orang yang benar
27. hormati dirimu, muliakan kehormatanmu | berikan pada lelaki yang siap mengambilnya dengan menikahimu, bukan menjanjikan harapan palsu
28. tutupi auratmu, pakai kaus kakimu | karena lelaki baik akan menundukkan pandangan, karenanya akan melihat kebawah kakimu :D
SUMBER : KLIK DISINI

Satu kata cinta Bilal:
“Ahad!”
Dua kata cinta Sang Nabi:
“Selimuti aku…!”
Tiga kata cinta Ummu Sulaim
“Islammu, itulah maharku!”
Empat kata cinta Abu Bakr
“Ya Rasulullah, saya percaya…!”
Lima kata cinta ‘Umar
“Ya Rasulullah, izinkan kupenggal lehernya!”
*******
Selamat datang di jalan cinta para pejuang!
Dia sangat bersih, wajahnya berseri-seri,
bagus perawakannya, tidak merasa berat karena gemuk.
tidak bisa dicela karena kepalanya kecil, elok dan tampan,
dimatanya ada warna hitam, bulu matanya panjang,
lehernya jenjang, matanya jelita, memakai celak mata,
alisnya tipis, memanjang dan bersambung,
rambutnya hitam,
jika diam dia tampak berwibawa,
jika berbicara dia tampak menarik,
dia adalah orang yang paling elok dan menawan jika dilihat dari kejauhan,
tampan dan manis setelah mendekat.
::. Ummu Ma’bad Al Khuzaiyyah, tentang Rasulullah .::
bagus perawakannya, tidak merasa berat karena gemuk.
tidak bisa dicela karena kepalanya kecil, elok dan tampan,
dimatanya ada warna hitam, bulu matanya panjang,
lehernya jenjang, matanya jelita, memakai celak mata,
alisnya tipis, memanjang dan bersambung,
rambutnya hitam,
jika diam dia tampak berwibawa,
jika berbicara dia tampak menarik,
dia adalah orang yang paling elok dan menawan jika dilihat dari kejauhan,
tampan dan manis setelah mendekat.
::. Ummu Ma’bad Al Khuzaiyyah, tentang Rasulullah .::
“Ya Rasulullah,” Kata ‘Umar perlahan, “Aku mencintaimu seperti kucintai diriku sendiri.”
Beliau Salallahu’alaihi wa sallam tersenyum. “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”
“Ya Rasulullah”, kata ‘Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini,”
“Nah, begitulah wahai ‘Umar.”
selalu tersenyum-senyum sendiri jika membaca petikan percakapan ini,
kenapa?…
ya karena ‘Umar yang terkenal akan perawakannya yang besar, pembawaannya yang kokoh dan tegap, karakternya yang keras, begitu dengan mudahnya menggeser pilihan-pilihan tentang siapa yang seharusnya mendominasi cintanya. Bagaimana ‘Umar menyederhanakan kerja cintanya begitu luar biasa.
“Karena ‘Umar memahami-” tulis Salim A fillah “-Cinta adalah kata kerja-adalah persoalan berusaha untuk mencintai. bahwa cinta bukanlah gejolak hati yang datang sendiri melihat paras ayu atau jenggot rapi. Bahwa, sebagaimana cinta kepada Allah yang tak serta merta mengisi hati kita, setiap cinta memang harus diupayakan. Dengan kerja, dengan pengorbanan, dengan air mata, dan bahkan darah.”
“Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan.. Meloncati rasa suka dan tidak suka.. Melampaui batas cinta dan benci.. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi.. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat.. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas..
Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Alloh lebih tahu tentang kita..”
di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
lalu disengaja malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati
teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiaaban, menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki,
walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah
tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang
Aku percaya.
Maka aku akan melihat keajaiban
Iman adalah mata yang terbuka
Mendahului datangnya cahaya
Yang aku tahu, Allah bersamaku.
Nuh yang bersipayah membuat kapal di puncak bukit tentu saja harus menahan geram ketika dia ditertawai, diganggu, dan dirusuh oleh kaumnya. Tetapi, sesudah hampir 500 tahun mengemban risalah dengan pengikut yang nyaris tak bertambah, Nuh berkata bijak, dengan cinta, “Kelak kami akan menertawai kalian sebagaimana kalian kini menertawai kami.”
Ya. Nuh belum tahu bahwa kemudian banjir akan tumpah. Tercurah dari celah langit, terpancar dari rekah bumi. Air meluap dari tungkunya orang membuat roti dan mengepung setinggi gunung. Nuh belum tahu. Yang ia tahu adalah ia diperintahkan membina kapalnya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah akan bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya. ‘Alaihis Salaam..
Ibrahim yang bermimpi, dia juga tak pernah tahu apa yang akan terjadi saat ia benar-benar menyembelih putera tercinta. Anak itu, yang lama dirindukannya, yang dia nanti dengan harap dan mata gerimis di tiap doa, tiba-tiba dititahkan untuk dipisahkan dari dirinya. Dulu ketika lahir dia dipisah dengan ditinggal di lembah Bakkah yang tak bertanaman, tak berhewan, tak bertuan. Kini Isma’il harus dibunuh. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh tangannya sendiri.
Dibaringkanlah sang putera yang pasrah dalam taqwa. Dan ayah mana yang sanggup membuka mata ketika harus mengayau leher sang putera dengan pisau? Ayah mana yang sanggup mengalirkan darah di bawah kepala yang biasa dibelainya sambil tetap menatap wajah? Tidak. Ibrahim terpejam. Dan ia melakukannya! Ia melakukannya meski belum tahu bahwa seekor domba besar akan menggantikan sang korban. Yang diketahuinya saat itu bahwa dia diperintah Tuhannya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya. ‘Alaihis Salaam..
Musa juga menemui jalan buntu, terantuk Laut Merah dalam kejaran Fir’aun. Bani Israil yang dipimpinnya sudah riuh tercekam panik. “Kita pasti tersusul! Kita pasti tersusul!”, kata mereka. “Tidak!”, seru Musa. “Sekali-kali tidak akan tersusul! Sesungguhnya Rabbku bersamaku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Petunjuk itu pun datang. Musa diperintahkan memukulkan tongkatnya ke laut. Nalar tanpa iman berkata, “Apa gunanya? Lebih baik dipukulkan ke kepala Fir’aun!” Ya, bahkan Musa pun belum tahu bahwa lautan akan terbelah kemudian. Yang dia tahu Allah bersamanya. Dan itu cukup baginya. ‘Alaihis Salaam..
Merekalah para guru sejati. Yang kisahnya membuat punggung kita tegak, dada kita lapang, dan hati berseri-seri. Yang keteguhannya memancar menerangi. Yang keagungannya lahir dari iman yang kukuh, bergerun mengatasi gejolak hati dan nafsu diri. Di jalan cinta para pejuang, iman melahirkan keajaiban. Lalu keajaiban menguatkan iman. Semua itu terasa lebih indah karena terjadi dalam kejutan-kejutan. Yang kita tahu hanyalah, “Allah bersamaku, Ia akan memberi petunjuk kepadaku.”
Nuh belum tahu bahwa banjir nantinya akan tumpah
ketika di gunung ia menggalang kapal dan ditertawai
Ibrahim belum tahu bahwa akan tercawis domba
ketika pisau nyaris memapas buah hatinya
Musa belum tahu bahwa lautan kan terbelah
Saat ia diperintah memukulkan tongkat
Di Badar Muhammad berdoa, bahunya terguncang isak
“Andai pasukan ini kalah, Kau takkan lagi disembah!”
Aku belum tahu akankah hidupku ini rampung dengan indahnya
Tersungkur dalam sujud syukur ataukah taubat mengiba ampunan kala nanti waktu ku tiba,
Yang aku tahu, Allah perintahkan diri ini sempurnakan ikhtiar hingga ke batas nadir,
Yang aku tahu, Allah bersamaku…
Sumber : Salim A. Fillah dalam Buku Jalan Cinta Para Pejuang
Kenangan Masa Bersama
Sabtu, 04 Januari 2014
Posted by ikanjenong.blogspot.com
Tag :
Video Inspiratif
Di bawah naungan langit biru dengan segala hiasannya yang indah
Di atas hamparan bumi dengan segala lukisannya yang terbentang
Masih ku dapatkan dan kurasakan Curahan rahmat dan nikmat
Di siang hari kulangkahkan kaki bersama ayunan langkah sahabtku
Di malam hari ku pejamkan mata bersama orang-orang yang kucintai
Seperti
juga siang dan malam
pertemuan
dan perpisahan
adalah
pasangan dalam kehidupan
bahagia
dan derita
adalah
dua sisi
dari
koin yang sama
yang
saling membutuhkan
***Selamat Jalan Sahabat***

Cinta tetaplah
cinta..
Ia ada.. hadir dalam
setiap jiwa..
Wanginya tak pernah
sirna, walau masa terus saja menghantarnya..
Sejarah mungkin saja
berulang, bahkan kini kita adalah bagian darinya..
Bagian dari sejarah..
bagian dari cinta..
Cinta memang
sejatinya memberi bahagia, maka jangan biarkan ada tangis lain untuknya..
Biarkan wanginya
semerbak, bak daun tertiup angin.. atau bau tanah yang diguyur hujan..
Ia ibarat embun di
rerumputan..
Bahkan laksana angin yang
menggiring awan, matahari yang kemudian membawa pelangi..
Begitulah cinta..
Tawanya.. senyumnya..
candanya.. aah.. mengagumkan..
Jikalau akhirnya
cinta membuatmu menangis
Maka bukan cinta yang
salah
Hanya saja kadang
cara kita yang salah menilai cinta
Cara kita yang salah
dengan ego kita
Cara kita
memperlakukannya
Cinta tetaplah cinta..
Bagaimanapun ia,
tetap saja indah..
Aku hanya pria biasa,
pria yang tak punya kuasa atas apa-apa..
Tapi.. akupun sama
seperti pria lainnya.. punya rasa.. punya suka..
Meski Cukup Di Hati
saja
Ku biarkan Yang Kuasa
Atasku
Yang kan mengatur
jalannya..
Hingga kelak Sabar
ini, penantian ini, masa ini.. kan berbuah manis.
aku bingung..
bingung harus berbuat apa?
aku resah, aku gelisah..
bingung harus berbuat apa?
aku resah, aku gelisah..
aku takut, takut takut kau menjauh..
__sekilas kita renungkan__
kegelisahan, rasa takut, & bingung itu datang dari hati yg hampa..
hati yg kosong, hati yg jauh dr Alloh..
kuncinya, maka dekatkanlah..
maka lekatkanlah..
apa yg terjadi pd kita adalah
aturan yg telah Alloh tetapkan..
berserah dirilah pada_Nya..
Ia lebih paham apa yg kita rasa..
Ia lebih mengerti dan lebih tahu apa yg terbaik untuk kita..
Maka, rendahkanlah hatimu pada_Nya..
jangan terbuai angan-angan mengambang..
jangan terlena pandangan mata memanja..
jangan tertipu bibir senyum tersipu..
tarik nafas perlahan..!!
lalu luruskan kembali niatmu..
_jalanmu sesuai pilihanmu, jika salah memilih bersiaplah untuk bersemayam dalam kekecewaan_
*Mulya Riadianto*
Sepenggal Do'a Kulantunkan Pada-Mu
Kamis, 02 Januari 2014
Posted by ikanjenong.blogspot.com
Tag :
Puisi

Aku larut dalam sentuh_Mu..
bak butir-butir kristal gula diguyur air..
aku diam dalam hening_Mu..
dengan milyaran bintang menjulang tinggi di galaksi..
aku terpana oleh tatap_Mu..
diantara deburan ombak yg menghantam karang..
aku kaku oleh bisikmu..
diantara daun, ranting, embun, hujan, awan dan seisi semesta berdzikir terhadap_Mu..
aku kelu oleh ucap_Mu..
diantara tangis, tawa, canda, suka, duka, keluh dan kesah manusia..
sembah sujudku dihadap_Mu..
diatas sajadah dan sebongkah tanah..
diatas gundukan pasir-pasir kehidupan..
diantara warna-warni pelangi dunia..
astagfirulloh..
aku mohon ampun keatas_Mu..
dari luasnya dosaku, dari menggunungnya khilafku..
subhanalloh..
dan hanya Engkau yg mampu mensucikannya kembali..
alhamdulillah..
segala pujian hanya milikmu..
pemilik semesta dan segala isinya.
pemilik hatiku hingga ajal tiba..
*Mulya Riadianto*
wajah yang sayu..
tertunduk lesu..
garis-garis keriput kian tampak jadi ukiran dari setiap bebannya..
nafasnya yg tak lagi panjang..
tubuhnya yg tak lagi kekar..
mimpinya yg semakin hari kian memudar..
lebih dari separuh abad ia merangkai cintanya..
menulis melodi-melodi cintanya dalam bait-bait langkahnya yg kian merapuh..
sepintas.. tergambar diotaknya ketika ia dipapah berjalan oleh sang ibu.. belajar bicara..
kemudian tumbuh dewasa..
ah.. betapa singkatnya hidup ini..
rasanya baru kemarin ciuman bunda terasa dikeningnya..
belaian ayah yg mengajarkan arti kehidupan..
tapi..
semua telah berlalu..
semua pergi bersama angin yg terbawa waktu ditepian zaman..
kemarin akulah sipenguasa..
akulah sipintar dan perkasa..
akulah sikaya tiada duanya..
kini..
semua seolah sirna..
hilang bersama usia yg terus mengambil jatahnya..
ah.. biarlah..
biarkan ku disini menunggu maut menjemput..
meski hanya dengan tatapan sayu dan senyuman malu..
pada_Mu..
*Mulya Riadianto*
Aku dan laut adalah sepasang kekasih..
disatukan cinta dan dipisahkan birahi..
aku datang dr balik pegunungan..
sebagaimana bening tanganku berpacu dalam belai lembutnya..
ku sejukkan amarah hatinya dgn tangisku..
saat pagi menjelma, ku sambut ia dgn senyuman kerinduan..
maka dia menggapaiku..
kala senja tiba..
kubisikan syair-syair cinta dari ujung-ujung jemariku..
maka kamipun disatukan cinta dalam pelukan muara..
betapa sering ku menolong petani dan nelayan memohon secuil cinta dariku..
maka ku taburi mereka dengan butiran-butiran permata dari lautan permenunganku..
dan betapa sering kutemani batu-batu membeku dipelupuk jiwaku..
membawa jutaan mimpi pada tangan kekasihku..
tak pernah ku mengeluh dan menyesali diri..
aku bangga telah jadi bagian dari kehidupan di bumi Tuhan..
cinta, harapan, dan mimpi2..
inilah jalanku.. dan inilah hidupku..
maka beginilah aku hidup..
*Mulya Riadianto*
Menetes Air Mataku..
Minggu, 08 Desember 2013
Posted by ikanjenong.blogspot.com
Tag :
Video Inspiratif
Orang tua selalu memberi apa yang kita minta, walaupun terkadang ia harus merelakan sesuatu miliknya..
Sungguh.. dibuat menangis saya melihat video iklan ini..
Terima kasih ibu.. atas cinta kasihmu..
Video Inspiratif Investasi 30 Tahun yang Lalu
Posted by ikanjenong.blogspot.com
Tag :
Video Inspiratif
Memberi dan membantu orang yang sedang kesusahan dan membutuhkan bantuan, terkadang bantuan yang sama akan kita dapatkan dari orang yang sama yang pernah kita bantu. Maka, yuuuk sadaraku.. kita belajar untuk membantu dengan ikhas, in shaa Alloh, Alloh akan balas dengan balasan yang setimpal.
Berikut video yang cukup menginspirasi untuk kita, investasi 30 tahun yang lalu.. Selamat Menonton..
Semoga tayangan berikut bisa jadi pengingat hati kita, semakin melembutkan hati kita.. Aamiin..
Mungkin kita terlalu banyak mengeluh sampai-sampai kita tak menyadari ada orang yang seharusnya melupakan keluhan dan meggantinya dengan syukur meski berkekurangan
Mungkin kita terlalu banyak terpaku pada logika dan standar-standar dunia, sehingga kita lupa bahwa logika dunia sekuat apapun akan terkalahkan dengan kekuatan iman yang menghadirkan keajaiban dengan logika Allah
Mungkin kita terlalu banyak tertawa sampai-sampai keras hati kita untuk sekedar mensyukuri sempurnanya tubuh yang memudahkan kita mengejar segala ambisi dunia
Mungkin kita terlalu bakhil sampai-sampai kita sayang untuk sekedar mengeluarkan rupiah untuk membasuh harta kita dari kebatilan
dan mungkin kita terlalu egois, sehingga penuh waktu 24 jam sehari hanya memikirkan tentang diri, tanpa mengingat betapa kita diciptakan sebagai khalifah dengan tugas menyampaikan kebaikan dengan cara apapun yang kita bisa
mungkin kita terlalu alpa, hingga tak sadar kita selalu dalam keadaan lupa pada-Nya...

"Tony Raharjo"

Ajari aku jujur ya Allah
Agar aku dapat sehebat Khadijah saat mencari ma’isyah
Meraih pintu rizkimu penuh berkah
Ajari aku berlisan baik ya Allah
Agar kata-kataku dapat melembutkan hati hamba-hamba-Mu
Agar bersama-sama belajar untuk menaiki pendakian tasbih-Mu
Ajari aku seperti bidadari surga ya Allah
Agar suamiku tentram hatinya kala dirumah
dan juga kala pergi berdakwah
Ajari aku ketaatan malaikat ya Allah
Agar aku tak lalai kala ber ibadah
Sehingga bisa merasakan kekhusyuan Ali yang tak merasa sakit sedikitpun kala tertancap panah
Ajari aku pengorbanan ya Allah
Agar aku setegar Ibrahim saat harus berkorban putranya sendiri
Dan mengikhlaskan apapun yang akan kau ambil kembali
Ajari aku segala hal yang akan mengantarkanku ke rumah-Mu ya Allah
Dengan ilmu dan kuasamu yang tak bertepi .
"Tony raharjo"
"Tony raharjo"
Mari Terbitkan Surga di Beranda Rumah Kita, Dinda..
Kamis, 05 Desember 2013
Posted by ikanjenong.blogspot.com
Tag :
Kisah Menyejukan Hati
“Kurasakan air mata ini kembali menyuburkan bunga cinta di taman hati. Kupersembahkan indah mekarnya untukmu, dinda. Semerbaknya begitu harum, bukan?”
*****
>>Saat itu. . .
Aku sudah mengenalmu karena memang engkau adalah tetangga dekatku. Olehku, benar-benar tak terbayang bahwa engkau kan menjadi kekasih hatiku yang terajut oleh untaian tali pernikahan. Jujur terakui, wajahmu tak terlalu cantik. Namun begitu, sulit pula bagi lidahku untuk kututurkan bahwa engkau jelek rupa. Biasa saja. Bagimu, make-up tak begitu penting. Itu kuketahui karena engkau memang tak pernah memoleskannya di wajahmu.
>>Aku dan Keputusanku …
Engkau adalah wanita sederhana. Iya, wanita sederhana, pintar, tak banyak bicara. Engkaulah wanita yang bersahaja. Terlihat dewasa, pula. Kesederhanaan dan kesahajaan yang engkau peragakan lah yang justru terasa mengusik hati ini. Benar, tak bisa kupungkiri. Tak bisa kututupi. Akhirnya, nyaliku terpercik hebat lalu menghujankan sebuah keputusan. Kupilih engkau menjadi permaisuriku.
>>Sejenak Tentangmu …
Engkau, dinda, bukanlah keturunan orang berpangkat, juga bukan keturunan ningrat. Aku tak peduli. Raga yang terbalut kain-kain penutup aurat dan jiwa yang terpaut akhirat yang kuingini. Terlebihi terpolesi ilmu syar’i. Tekadku sudah bulat. Kupinang engkau dalam waktu dekat.
Engkau, dinda, saat itu baru lulus SMA. Tak kusangka kalau engkau menerima lamaranku dengan tangan terbuka. Bahkan untuk menerimaku, engkau pangkas keinginanmu mencicipi bangku kuliah. Semua gurumu begitu menyayangkan keputusanmu karena engkau termasuk siswa yang cerdas. Aku tak tahu, mengapa engkau memilihku menjadi pangeran yang akan menduduki singgasana hatimu, dinda. Sujud syukurku pada Allah ‘azzawajallah. Alhamdulillah.
>>Percikan Bahagia di Hari Pernikahan…
Dan hari itu pun kita menikah. Terbitlah kebahagiaan yang menyelimuti sanubari. Sempurnalah mekar indah pucuk asmara. Telah tiba saatnya biduk harus berlayar di samudera kehidupan. Terhempas sudah karang-karang penantian yang bertengger di taman hati.
Adakah jalinan yang indah selain jalinan dan untaian tali pernikahan?
Adakah letupan-letupan cinta yang lebih menenteramkan hati sepasang muda-mudi selain dalam ikatan ini?
Adakah hubungan yang lebih menabung kebaikan selain hubungan sah secara syar’i?
Bak sejuknya tanah gersang yang kembali subur setelah dentuman hujan, bak cerahnya dedaunan muda yang indah menghijau bersemi, bak syahdunya kicauan burung menyambut mentari di pagi nan cerah, begitulah pula datangnya kuncup bahagia di hati.
>>Aku Begitu Kagum. . .
Semua terasa mudah dan indah, dinda. Engkaupun merasakan hal yang sama, bukan? Saat itu, usiaku 25 tahun dan engkau baru 19 tahun. Memang masih terlalu muda untuk kalangan umum namun engkau berani mengambil keputusan itu. Engkau berani mengakhiri masa lajangmu di usia dini. Dan tahukah engkau, dinda, itu membuatku semakin kagum padamu.
Dinda tersayang.
Semenjak menikah hingga saat ini, kekagumanku padamu terpupuk subur. Kudapati engkau belum pernah mengeluh tentang keadaan yang kita alami bersama. Padahal engkau sendiri tahu bahwa penghasilanku tak seberapa, kadangkala tak seimbang antara pemasukan dan pengeluaran. Begitu sering kita harus mengikis beberapa keinginan karena kita tak sanggup menggapainya. Benar-benar tak pernah terlihat kristal bening menetes dari pelupuk matamu karena hal itu, dinda.
>>Tetesan Air Mata di Kasur Cinta ..
Masih teringatkah olehmu, dinda, saat pertama kali kita arungi bahtera ini di sebuah kontrakan mungil? Sama sekali kita tak punya apa-apa, bahkan alas tidur pun tak ada. Tetapi engkau benar-benar membuktikan kecerdikanmu, dinda.
Seonggok pakaian kita yang masih tersimpan dalam tas usang, kau keluarkan. Engkaupun melipatnya lalu engkau tumpuk dua hingga tiga helai. Engkau kemudian mengaturnya berjejeran. Di atas barisan baju itu, engkau bentangkan jilbab lebarmu. Jadilah kasur cinta ala istriku terkasih.
Sambil menyungging senyum manismu, engkau mempersilahkan aku mengempukkan diri di kasur cinta kita. Kutatap wajah ayumu, dinda. Kufokuskan mataku memandang hitam bola matamu sambil membalasmu dengan senyumku. Beberapa detik kemudian, kurasakan getaran hebat berkecamuk di hati. Dan, dan, dan berlinanglah air mata haruku. Aku cinta. Aku cinta. Aku mencintaimu, dinda.
>>Saatnya Engkau Melahirkan ..
Bersamamu, wahai permaisuri hatiku, tak terasa begitu cepat bergulirnya waktu. Dengan penuh kasih, selalu indah nan syahdu terlalui hari-hari, dinda. Kekurangan materi yang terkadang menghantui seakan-akan bukanlah beban manakala kita senantiasa menebalkan keikhlasan di hati. Denganmu, dinda, begitu banyak pelajaran yang kupetik.
Masih ingatkah ketika usia pernikahan kita beranjak setahun, saat tujuh bulan usia kehamilanmu, dinda? Aku begitu panik ketika engkau mengalami pendarahan. Tapi engkau begitu tenang tak gugup. Dari keningmu yang berkerut dan nafasmu yang tertahan, aku tahu engkau sedang menahan sakit yang luar biasa. Segera saja kubawa engkau ke bidan. Dari pemeriksaannya, itu adalah tanda-tanda bahwa engkau akan melahirkan.
Jam 12 malam, saat manusia tengah asyik terlelap, anak pertama kita lahir dengan prematur. Ah, betapa aku bahagia, dinda. Berulang kali, kukecup keningmu dengan kecupan sayang penuh mesra.
>>Segelas Air Putih..
Aku melihat wajahmu melemas. Engkau begitu lelah. Secara perlahan, kau bisiki aku dengan berkata:
“abii…, aku lapeer.”
Tersentak aku mendengarnya, dinda. Ya, seharian tadi engkau tak makan karena kesakitan sejak kemarin. Sore tadi aku hanya membeli sebungkus roti untukmu namun sudah kulahap habis karena tadi engkau tak nafsu makan. Kini tak ada roti atau jajanan lain. Mau beli, jam segini semua toko dan warung sudah tutup.
Alhamdulillah, ada segelas air putih yang dibawakan bidan. Kusuguhkan sendiri untukmu agar kemesraan kita tetap terjalin dan barangkali letihmu akan terkikis. Perlahan, engkau pun meneguknya, dinda. Tak ada tuntutan dan keluhan sedikit pun yang terlontar dari lisanmu. Engkau sungguh mengagumkan, dinda. Aku memuji Allah atas anugerah ini.
Kesahajaanmu benar-benar menggelombangkan air mataku. Melihat semburat bahagia terbit di wajahmu, kembali kurasakan tetesan bening bak kristal itu mengalir syahdu dari pelupuk mataku. Seiring menyusuri lembah hidungku, kurasakan air mata ini kembali menyuburkan bunga cinta di taman hati. Kupersembahkan indah mekarnya untukmu, dinda. Semerbaknya begitu harum, bukan?
Yah, bayi yang menjadi permata hati kita yan selamat dan nampak sehat telah membuatmu lupakan lapar dan dahaga.
>>Engkaulah Penyejuk Hati..
Tahun berganti dan engkau tak pernah berubah. Hampir sepuluh tahun kita bersama dalam bahtera yang penuh dengan kesederhanaan tetapi kita tak pernah lontarkan keluh. Engkau tak pernah tuntut dunia dariku, dinda. Tak pernah minta ini. Tak pernah minta itu. Beli pakaian saja mungkin tiga atau empat tahun sekali. Perhiasan? Tak pernah engkau mengenalnya. Bagimu, bisa memenuhi kebutuhan saja tanpa berhutang sudah lebih dari cukup.
Sungguh, dinda. Aku amat bahagia mengenalmu sosokmu. Aku memuji Allah atas anugerah ini. Engkaulah permata sekaligus belahan jiwa yang menyejukkan hati. Mata akan teduh memandangmu. Engkaulah sebenarnya perhiasan itu, dinda. Semoga engkau selalu tegar menemani hari-hariku hingga kita jelang negeri penuh cinta nan abadi di akhirat nanti.
***
Sumber Artikel : Klik Disini
